Fenomena
Homoseks dan Khurafat
di Majlis Ta’lim
MAJLIS TA’LIM dalam
pengertian sederhana adalah tempat belajar atau mencari ilmu. Tentu yang
dimaksud adalah ilmu agama Islam. Berbeda dengan lembaga pendidikan
formal yang mempunyai kurikulum baku, majelis ta’lim jauh lebih longgar,
bahkan tanpa ikatan formal sebagaimana lembaga pendidikan pada umumnya.
Keberadaan majlis ta’lim biasanya
merupakan swausaha dan swadana masyarakat yang memang berkeinginan
memperdalam ilmu agama Islamnya tanpa jadwal dan kurikulum yang ketat,
namun kekeluargaan, serta disesuaikan dengan kebutuhan komunitasnya.
Namun belakangan, sebagian
majlis ta’lim menjadi ajang pamer kekuatan, ajang pamer banyak-banyakan
jama’ah, yang konon untuk memenuhi syahwat pimpinannya.
Misalnya, pada musim pemilihan umum tingkat daerah hingga tingkat
nasional, biasanya elite parpol yang ingin partainya meraih suara
banyak, mendekati pimpinan majlis ta’lim tertentu dengan harapan
jamaahnya yang terkesan banyak itu mau memberikan suara kepada parpol
yang dipimpinnya.
Diduga, mengalirlah money politic,
yang susah dibuktikan kebenarannya namun sulit ditepis begitu saja.
Siapa yang paling diuntungkan? Kemungkinan pimpinan atau elite majlis
ta’lim tersebut. Siapa yang berhasil dibodohi? Selain jama’ah yang
taklid juga pimpinan dan elite parpol tadi. Karena, siapa bisa menjamin
bahwa parpolnya akan kebanjiran suara dari jama’ah majlis ta’lim tadi?
Perkembangan selanjutnya lebih meprihatinkan, tidak sekedar menjadikan majlis ta’lim sebagai sumber fulus, tetapi ada juga yang menjadi sumber penyebaran paham sesat (syi’ah dan sebagainya) serta aneka kemunkaran seperti homoseks, free sex dan pedofilia, sebagaimana terjadi baru-baru ini.
Setidaknya, akhir-akhir ini ada dua
majlis ta’lim yang terkesan banyak jama’ahnya. Nama majlis ta’limnya pun
cukup mentereng, seperti Nurul Musthofa yang berarti cahaya pilihan. Bahkan ada majlis ta’lim yang merupakan ‘saingan’ Nurul Musthofa, menggunakan nama tak tanggung-tanggung yaitu Majelis Rasulullah SAW.
Kenyataannya, Nurul Musthofa (NM) pimpinan habib Hasan Assegaf, dan Majelis Rasulullah SAW (MR) pimpinan habib Munzir Al Musawwa, sama-sama punya kebiasaan buruk, yaitu menutup ruas jalan untuk menggelar acaranya. Tidak hanya pada musim muludan tetapi juga pada hari-hari lain. Sejumlah orang yang disebutnya jama’ah dari berbagai tempat seperti tumplek bleg di satu lokasi. Tidak sekedar memacetkan jalan, akan tetapi juga membuat bising kawasan sekitar.
Aparat kelurahan dan kecamatan serta pihak RT dan RW memberi izin kepada kerumunan ini berkiprah, karena mereka takut melihat banyaknya jama’ah majlis tersebut. Padahal, sesungguhnya segerombolan orang yang disebut jama’ah tadi hanyalah massa cair yang mudah diurai dengan protap (Prosedur Tetap)
yang baku. Bahkan, menurut sebuah sumber, massa cair yang dikesankan
sebagai jama’ah tadi diduga adalah massa bayaran, bukan benar-benar
jama’ah majlis bersangkutan.
Sumber fulus untuk mendanai massa bayaran tadi, antara lain kemungkinan dari sejumlah orang kaya yang cinta habib [sic!] dan dari sumber-sumber lain yang tidak accountable.
Tujuannya jelas, dengan adanya gerombolan orang di satu titik dengan
dalih menghadiri majlis ta’lim yang dipandu seorang habib, adalah untuk
unjuk kekuatan. Serta, minim unsur ta’limnya. Misalnya, bisa dilihat banyaknya muda-mudi berkhalwat, pacaran, mojok, saat acara berlangsung.
Gerombolan seperti ini sudah
seharusnya TIDAK DIBERI IZIN oleh pihak RT dan RW juga oleh aparat
terkait (babinsa, Lurah dan Camat), karena selain merampas hak
masyarakat pengguna jalan, juga menimbulkan kebisingan, gangguan
kamtibmas, serta lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya. Bahkan
ada yang mencurigai, aktivitas keagamaan itu jangan-jangan menjadi cover yang nyaris sempurna untuk sebuah transaksi narkoba dan obat-obatan telarang lainnya.
HABIB MUNZIR
Bila habib Hasan Assegaf yang diduga
mengidap penyakit homoseksualitas dan pedofilia –yang dugaan itu– sudah
mulai terkuak keburukan dan kebohongannya, tidak demikian halnya dengan
habib Munzir. Namun, Hasan dan Munzir sama-sama mendoktrin jama’ahnya
dengan cerita-cerita yang ajaib bernuansa khurafat bahkan berbau
kemusyrikan.
Seorang jama’ah Majelis Rasulullah dengan identitas e-mail pemudasuci@yahoo.com pernah menulis artikel di mailing list
(milis) Majelis Rasulullah tentang karomah sang habib. Mungkin saking
semangatnya di dalam mengkampanyekan sang habib, artikel bernuansa
khurafat dan kebohongan tersebut di-forward (diteruskan) ke berbagai blog pribadi. Antara lain mampir juga ke lamannya mas Yogo Saptono (http://www.kaskus.us/showthread.php?t=13118500).
Oleh si pemudasuci@yahoo.com ini, habib Munzir dideskripsikan sebagai sosok yang masyhur (terkenal) dalam dakwah syariah, namun mastur (menyembunyikan
diri) dalam keluasan haqiqah dan ma’rifahnya. Juga, dikesankan sebagai
sosok yang banyak mengalami peristiwa ghaib namun tetap rendah hati dan
tetap merahasiakan peristiwa ghaib tersebut.
Beberapa ‘karomah’ yang dimiliki habib Munzir menurut penuturan pemudasuci@yahoo.com,
antara lain berupa dapat mengetahui ajal seseorang. Misalnya, melalui
penuturan berikut: “… ketika orang ramai minta agar habib Umar
Maulakhela didoakan karena sakit, maka beliau (maksudnya habib
Munzir-red) tenang-tenang saja, dan berkata: habib Nofel bin Jindan yang akan wafat, dan habib Umar Maulakhela masih panjang usianya.
Benar saja, keesokan harinya habib Nofel bin Jindan wafat, dan habib
Umar Maulakhela sembuh dan keluar dari opname. Itu beberapa tahun yang
lalu…”
Kemampuan habib Munzir yang dikesankan bisa mengetahui ajal seseorang, juga bisa ditemui melalui penuturan pemudasuci@yahoo.com
sebagai berikut: “… ketika habib Anis Al-Habsyi Solo sakit keras dan
dalam keadaan kritis, orang-orang mendesak habib Munzir untuk
menyambangi dan mendoakan habib Anis, maka beliau berkata kepada
orang-orang dekatnya, habib Anis akan sembuh dan keluar dari opname, Insya Allah kira-kira masih sebulan lagi usia beliau. Betul saja, habib sembuh, dan sebulan kemudian wafat…”
Cerita-cerita di atas tidak sekedar
membohongi dan membodohi, tetapi sudah bernuansa musyrik, karena
mensejajarkan habib Munzir dengan Allah SWT dalam hal memiliki
pengetahuan tentang ajal manusia. Padahal, dalam ajaran Islam hanya
Allah yang mengetahui ajal setiap manusia. Bahkan para Rasul pun tidak
diberi kemampuan tentang itu. Apalagi hanya seorang habib Munzir!
قُلْ
لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ
وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى
إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلَا
تَتَفَكَّرُونَ [الأنعام/50]
Katakanlah: aku tidak mengatakan
kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku
mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku
seorang malaikat. aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan
kepadaku. (QS Al-An’am: 50).
Selain dikesankan punya kemampuan mengetahui ajal seseorang, habib Munzir oleh si pemudasuci@yahoo.com
juga dikesankan mampu meredakan aktifitas gunung berapi, sebagaimana
penuturan berikut: “… ketika gunung Papandayan bergolak dan sudah
dinaikkan posisinya dari siaga satu menjadi awas, maka habib Munzir
dengan santai berangkat ke sana, sampai ke ujung kawah, berdoa, dan
melemparkan jubahnya ke kawah, kawah itu reda hingga kini dan kejadian
itu adalah 7 tahun yang lalu (VCD-nya disimpan di markas dan dilarang
disebarkan)…”
Kehebatan lainnya, sebagaimana dituturkan oleh si pemudasuci@yahoo.com
adalah habib Munzir mampu mengatasi dukun jahat: “…demikian pula ketika
beliau masuk ke wilayah Beji Depok, yang terkenal dengan sihir dan
dukun-dukun jahatnya, maka selesai acara habib Munzir malam itu,
keesokan harinya seorang dukun mendatangi panitia, ia berkata: saya ingin jumpa dengan tuan guru yang semalam buat maulid di sini.
Semua masyarakat kaget, karena dia dukun jahat dan tak pernah shalat
dan tak mau dekat dengan ulama dan sangat ditakuti. Ketika ditanya
kenapa? Ia berkata: saya mempunyai
empat jin khodam, semalam mereka lenyap, lalu subuh tadi saya lihat
mereka (jin-jin khodam itu) sudah pakai baju putih dan sorban, dan sudah
masuk Islam, ketika kutanya kenapa kalian masuk Islam, dan jadi begini?
Maka jin-jin ku berkata: apakah juragan tidak tahu? semalam ada Kanjeng Rasulullah saw hadir di acara habib Munzir, kami masuk Islam…”
Berita itu bertentangan dengan Islam,
karena tidak ada keterangan dalam Islam bahwa orang yang sudah wafat
walaupun Nabi hadir di acara manusia yang masih hidup, apalagi acara
bid’ah seperti maulidan. Yang ada justru hadits tentang proses
dicabutnya nyawa seseorang ketika mati sampai selanjutnya, kaitannya
dengan alam ghaib, bukan kembali ke dunia apalagi ke acara yang
diselenggarakan orang hidup. (lihat http://nahimunkar.com/2519/ruh-manusia-sesudah-mati-ada-di-mana/ ). Jadi itu dusta atas nama agama.
Masih menurut penuturan si pemudasuci@yahoo.com
pula: “… kejadian serupa di Beji Depok seorang dukun yang mempunyai dua
ekor macan jadi-jadian yang menjaga rumahnya, malam itu macan
jejadiannya hilang, ia mencarinya, ia menemukan kedua macan jadi-jadian
itu sedang duduk bersimpuh di depan pintu masjid mendengarkan ceramah
habib Munzir…”
Ini cerita berdasarkan pengakuan
dukun dan mengenai macan jadi-jadian lagi, sedangkan mempercayai dukun
itu sendiri sudah dilarang dalam Islam.
Hadis-hadis Nabi s.a.w :
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً.(رواه مسلم وأحمد).
“ Orang yang mendatangi tukang ramal
(paranormal) kemudian ia bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka
shalatnya tidak akan diterima selama 40 malam”. (Hadist Riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad dari sebagian isteri Nabi [Hafshah]).
مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُول فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ (رواه أحمد والحاكم).
“ orang yang mendatangi dukun atau
tukang ramal, kemudian membenarkan apa yang dikatakannya maka orang
tersebut telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad
saw”. (HR. Imam Ahmad dan al- Hakim dari Abu Hurairah).
Boleh jadi, cerita-cerita pembodohan
seperti inilah yang menjadi salah satu daya tarik sekelompok orang,
selain pengakuan sang habib yang konon merupakan keturunan nabi Muhammad
dari jalur Fathimah ra.
Bahkan para pengikut fanatik habib
Munzir ini percaya tentang karomah sang habib yang dapat berdaya-guna
meski tanpa kehadiran habib Munzir, sebagaimana penuturan pemudasuci@yahoo.com
berikut ini: “… maka saat mereka membaca maulid, tiba-tiba terjadi
angin ribut yang mengguncang rumah itu dengan dahsyat, lalu mereka minta
kepada Allah perlindungan, dan teringat habib Munzir dalam hatinya,
tiba-tiba angin ribut reda, dan mereka semua mencium minyak wangi habib
munzir yang seakan lewat di hadapan mereka, dan terdengarlah ledakan
bola-bola api di luar rumah yang tak bisa masuk ke rumah itu. Ketika
mereka pulang mereka cerita pada habib Munzir, beliau hanya senyum dan
menunduk malu…”
Padahal seharusnya justru
menjelaskan, acara maulidan itu sendiri tidak ada landasannya yang kuat
dalam Islam. Sedang reda atau tidaknya suatu peristiwa itu hanya Allah
yang menguasainya.
Firman Allah Ta’ala:
وَإِنْ
يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ
يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ(17)وَهُوَ
الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ(18)
“ Jika Allah menimpakan sesuatu
kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya
melainkan Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia
Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan Dialah Yang Berkuasa atas sekalian
hamba-Nya, dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”. (QS. al-An-am [6] : 17-18)
Pada suatu ketika, habib Munzir
diminta partisipasinya dalam demo anti Ahmadiyah yang diprakarsai habib
lainnya, namun Munzir menolak. Sehingga, ia dituduh pro Ahmadiyah,
karena dia tidak dikenal sebagai orang yang anti demo tentang apapun.
Menurut penuturan pemudasuci@yahoo.com
diceritakan bahwa: “…demikian pula ketika habib Munzir dicaci-maki
dengan sebutan Munzir Ghulam Ahmad, karena ia tidak mau ikut demo anti
Ahmadiyah, beliau tetap senyum dan bersabar, beliau memilih jalan damai
dan membenahi ummat dengan kedamaian daripada kekerasan, dan beliau
sudah memaafkan pencaci itu sebelum orang itu minta maaf padanya, bahkan
menginstruksikan agar jamaahnya jangan ada yang mengganggu pencaci itu,
kemarin beberapa minggu yang lalu di acara Al-Makmur Tebet habib Munzir
malah duduk berdampingan dengan si pencaci itu, ia tetap ramah dan
sesekali bercanda dengan Da’i yang mencacinya sebagai murtad dan
pengikut Ahmadiyah…”
Penuturan tadi mau tak mau membawa
kita kepada kesimpulan, bahwa habib Munzir ini boleh jadi termasuk yang
percaya atau toleran kepada yang meyakini ada nabi lain setelah Muhammad
SAW. Kalau tidak, kenapa tidak ada penjelasan sama sekali? Paling
kurang, sikap seperti itu membingungkan bagi orang yang mau berfikir,
sedang bagi yang fanatic, maka menghargainya sebagai sikap yang terpuji.
Padahal di balik itu secara tidak langsung kalau dihubungkan dengan
sikap Abu Bakar Shiddiq khalifah pertama yang memerangi nabi palsu
Musailimah al-kaddzab dan para pengikutnya, maka lafal kekerasan sama
dengan disematkan pula kepada Abu Bakar ra dan para sahabat yang
menyerang nabi palsu.
Apakah habib Munzir lebih baik daripada Abu Bakar ra dan para sahabat?
HABIB HASAN ASSEGAF
Berkat keberanian seorang guru ngaji bernama Maryam
(menantu Haji Atung), maka keburukan habib Hasan Assegaf terkupas
tuntas. Selain mengidap homoseksualitas, ternyata Hasan Assegaf ini
mengidap pedofilia, yaitu penyakit kelainan orientasi seks yang
cenderung melampiaskan hasrat birahinya kepada anak lelaki muda (usia
belasan tahun). Meksi Hasan Assegaf sudah beristri sejak 2004, namun
penyakitnya tetap eksis.
Menurut pemerhati yang biasa
menangani kasus pedofilia dan homoskesualitas, serta paham bahasa gaul,
kosa-kata yang digunakan Hasan kepada korbannya memang lazim digunakan
kalangan pengidap kelainan seks seperti waria atau bencong.
Sebagaimana diberitakan majalah GATRA Nomor 15/18 yang sudah beredar
sejak hari Kamis tanggal 16 Februari 2012, ada beberapa istilah yang
digunakan Hasan, misalnya, spg dan vcd beef.
Menurut pemerhati bahasa gaul, vcd beef merupakan kependekan dari video compact disc (VCD) dan beef adalah BF yang merupakan kependekan dari Blue Film alias film biru alias film porno, atau biasa disebut juga bokep. Sedangkan spg merupakan kependekan dari sepong yang bermakna sederhana isep atau menghisap. Dalam konteks ini, sepong adalah oral sex (menghisap alat kelamin atau dihisap alat kelaminnya).
Penjelasan pemerhati bahasa gaul
tadi, nampaknya mendukung cerita jabonjaya yang mengatakan bahwa sejak
2002 Hasan tidak sekedar melakukan pelecehan (meraba-raba), tetapi
menurut bahasa jabonjaya: “…Mereka dioral dan mengoral sang habib.” (http://nahimunkar.com/11067/fenomena-habib-diduga-cabul-dari-majlis-nm/)
Korban Hasan Assegaf tidak cuma anak
lelaki belasan tahun, tetapi ada sejumlah remaja putri. Sebagaimana
diberitakan Tribunnews.com edisi Rabu, 15 Februari 2012, seorang remaja
putri korban Hasan menuturkan, mereka disuruh foto bugil kemudian foto
tersebut ditunjukkan kepada Hasan. Alasannya, melalui foto bugil itu
sang habib bisa melihat keseluruhan isi hati si perempuan. Indera untuk
membaca isi hati dari Hasan akan terhalang jika perempuan masih
mengenakan busana.
Sebagaimana Munzir, sosok Hasan
Assegaf juga diselimuti kisah-kisah fantastis yang bagi orang beriman
dan berpendidikan, sulit diterima akal sehat. Sebagaimana dapat
diperiksa pada http://kisahhabib.blogspot.com/2011/03/cahaya-pilihan.html
yaitu: Di tahun 1998, sekitar enam bulan setelah Hasan Assegaf membuka
sekaligus memimpin Majelis Ta’lim Al-Irfan di belakang rumah Habib
Kramat Empang, Bogor, ia kedatangan seorang jama’ah yang membawa seorang
pria berumur separuh baya. Pria itu minta agar habib Hasan Assegaf
bersedia mengobati kakinya.
Ketika itu, habib Hasan Assegaf
sempat bingung, karena ia belum pernah menangani hal demikian. Namun,
karena tidak ingin mengecewakan tamunya, habib Hasan Assegaf kemudian
mengambil sebotol air putih dan membacakan Ratib Alattas. Botol
itu kemudian diserahkan kepada si sakit dengan pesan agar diminum
setibanya di rumah. Dua hari kemudian orang itu kembali lagi dalam
keadaan sembuh.
Kisah ajaib bagaikan Ponari sang
dukun cilik itu, ternyata menyebar dari mulut ke mulut, dan anehnya
membuat sebagian masyarakat percaya, sehingga mereka berduyun-duyun
menjadi jama’ah Hasan Assegaf.
Bila Munzir bisa melawan harimau
jejadian, Hasan Assegaf bisa mengalahkan kalajengking: “…suatu hari,
ketika Hasan Assegaf bangun tidur, ranjangnya penuh dengan kalajengking.
Maka ia pun segera bangkit dari tidur dan berdoa. Dalam sekejap
kalajengking-kalajengking itu mati semua…” Bahkan konon, selain
kalajengking, Hasan pernah menemukan seekor ular di kamar tidurnya.
Cerita pembodohan seperti yang
melingkari sosok Munzir dan hasan Assegaf, tentu sengaja direkayasa
untuk membuat sosok keduanya menjadi begitu bernilai di mata jama’ah
yang bodoh ilmu dan lemah iman ini. Artinya, majlis ta’lim yang mereka
dirikan sudah menyimpang dari semestinya. Yaitu bukan membuat pintar
tapi membodohi.
Tidak sekedar membodohi, tetapi juga
merugikan masyarakat. Hal ini sebagaimana pernah diungkap secara terulis
oleh Ahmad melalui blog pribadinya, Minggu 19 Juni 2011, sebagai
berikut:
Sabtu
malam ini (18/06), lewat jam setengah dua belas malam, saya beranjak
dari kantor di Mampang Prapatan menuju rumah di Depok. Meskipun kondisi
jalanan masih cukup ramai, hal ini wajar terutama pada malam Minggu.
Namun hal yang tampak biasa dan wajar berubah menjadi luar biasa dan
menyebalkan karena adanya rombongan sebuah pengajian.
Sejak
sebelum memasuki kawasan Pasar Minggu, kepadatan jalan raya mulai
terlihat dan nampak tidak biasa karena volume kendaraan lebih banyak
dari biasanya. Bunyi klakson bersahutan, baik dari pengendara mobil,
sepeda motor, maupun angkutan umum. Semua tak lebih karena “kemarahan”
akibat kemacetan yang terjadi. Dan “parade” ini terus berlangsung hingga
kawasan jalan Poltangan, tempat pengajian digelar.
Kemacetan
semakin parah begitu memasuki Pasar Minggu, terutama saat memasuki
terowongan yang jalannya menyempit. Setelah masuk terowongan, saya
melihat beberapa mikrolet yang disesaki penumpang berbaju takwa dan
kopiah putih, bukan hanya bergelantungan, mereka juga memenuhi atap
mikrolet. Yang mengejutkan lagi, sebagian besar mereka adalah anak
remaja yang kelihatannya masih SD atau SMP. Di bagian belakang mikrolet
dipajang spanduk putih yang ditulis dengan spidol hitam bertuliskan,
TEBET BERSOLAWAT, atau pada mobil yang lainnya, JUANDA-DEPOK BERSOLAWAT,
dan pada beberapa bagian ada juga tulisan bahasa Arab yang bacaanya
“Nurul Musthofa”, yang artinya “cahaya pilihan”.
Perjalanan
berlanjut, dan semakin rusuh saja. Selain intensitas suara klakson yang
makin tinggi, laju kendaraan pun semakin lambat. Bukan itu saja,
beberapa jamaah muda yang saya sebut di atas juga mulai turun ke jalan,
entah untuk apa. Stres melanda. Tak bisa melawan, hanya boleh bertahan.
Dan saya hanya menggeleng dan menganggukkan kepala mengikuti irama
klakson yang dibunyikan sebagai satu-satunya cara meredam stres dan
kemarahan.
Di sisi
jalan, tepatnya di pinggir rel kereta api yang tanahnya lebih tinggi
dari jalan raya, banyak sekali jamaah yang nongkrong sambil menyimak
pengajian dan mondar-mandir tak tentu arah. Beberapa jamaah yang
kelihatannya dari satu keluarga berjalan kaki ke arah berlawanan,
bersama anak-anak mereka yang masih kecil. Di samping itu, terlihat
wajah yang pucat pasi dan kelelahan dari beberapa pengendara mobil yang
sempat saya tengok mukanya. Agresifitas para pengendara motor pun sangat
kentara. Mereka tidak membiarkan ada ruang kosong sekecil apapun di
depannya, dan tak hentinya membunyikan klakson memerintahkan kendaraan
di depannya supaya segera maju.
Laju
kendaraan perlahan membaik begitu mendekati pusat pengajian di seputar
jalan Poltangan. Setengah jalur menuju Lenteng Agung yang dijadikan
majelis, dijaga ketat oleh beberapa jamaah dan sedikit polisi serta
dipagari dengan tali. Walau kendaraan mulai berjalan lancar –sekalipun
terseok-seok– beberapa pengendara masih meluapkan kekesalannya dengan
membunyikan klakson berulang kali. Kontan saja para penjaga barikade
marah. Mereka (penjaga barikade) meneriakkan ke para pengandara supaya
tidak membunyikan klakson lagi. Teriakannya begini, “Woi, klakson, woi! Pada mau ngaji apa mau ngapain, sih!”
Lho, ‘gimana sih? Yang membunyikan klakson tentu saja bukan orang yang
datang untuk mengaji, melainkan mereka yang terganggu karena kemacetan
ini. Dan tak lama setelah teriakan tersebut, ada salah seorang yang
berteriak, “b**gsat!”. Malu saya mendengarnya, ada kata makian di tengah
pengajian.
Sambil
melintasi para jemaah yang sedang mengikuti pengajian, saya mencoba
untuk tetap tenang dan sesekali mencuri pandang ke arah pengajian karena
penasaran, “apa yang disampaikan oleh sang ustadz?” Anehnya, sang ustadz tidak ada di situ, melainkan sebuah proyektor yang menayangkan sang Ketua Majelis sedang memberikan ceramah.
Rasa penasaran saya akan isi pengajian nihil, karena saya sama sekali
tidak bisa mendengar apa yang disampaikan oleh sang Ketua majelis di
layar proyektor. Suara bising kendaraan, klakson yang masih saja
“meraung”, serta teriakan orang-orang memecahkan konsentrasi ketika
menyimak tausyiah sang ustadz yang tak dapat didengar dengan baik.
Setelah
cukup sabar menanti, siksaan “efek pengajian di jalanan” pun berakhir.
Laju sepeda motor saya kembali kencang, dan tak ada lagi klakson
kemarahan. Kemacetan malam itu menyisakan kesan yang sangat mendalam
sekaligus banyak pertanyaan.
Saya
sangat terkesan, mengapa orang mau berbondong-bondong datang ke
pengajian seperti itu, padahal tidak semuanya mengikuti pengajian dengan
sungguh-sungguh, apalagi melihat cukup banyak anak-anak dan ibu-ibu
yang mengajak serta anaknya yang masih kecil untuk ikut pengajian.
Saya
terkesan bagaimana para jamaah dengan kompaknya bersatu demi tertibnya
pengajian tersebut (tidak berlaku untuk ketertiban di luar pengajian).
Tapi di luar itu, saya tak habis pikir, mengapa mereka memilih
mengadakan pengajian di tengah jalan raya yang jelas-jelas menganggu
ketertiban umum? Bukankah mengadakannya di tanah lapang yang luas atau
masjid yang besar adalah pilihan (lebih) bijak? Lalu, kemana aparat
kepolisian yang bertugas menertibkan lalu lintas?
Dan
pertanyaan terbesar adalah, apakah mereka, para petinggi majelis sadar
akan situasi ini? Kesemrawutan dan ketidaktertiban berlalu lintas yang
terjadi ketika jamaahnya mengadakan pengajin yang menyebabkan banyak
pihak (terutama pengendara) merasa tidak nyaman dan merasa terganggu?
Sampai dimanakah batas toleransi yang mereka miliki?
Sadarkah
mereka kalau kemacetan menimbulkan banyak kerugian materil maupun
imateril bagi orang lain (berapa cc bahan bakar dan waktu terbuang,
berapa banyak orang yang merasa kesal dan marah). Mengingat banyak orang
yang mengeluhkan setiap diadakannya pengajian yang selalu mengganggu
ketertiban umum? (http://dunianyajulia.blogspot.com/2011/06/cahaya-pilihan-pengajian-dan-bangsat.html)
***
Pemerintah sudah seharusnya tegas
kepada kelompok-kelompok seperti ini, yang menjadikan agama (Islam)
sebagai tameng, menjadikan majlis ta’lim sebagai kedok, untuk memenuhi syahwat duniawi pemimpinnya. Caranya, jangan beri izin kepada majlis-majlis seperti ini yang menggelar pengajian dengan cara menutup sebagian ruas jalan. Jalanan bukan tempat mengaji. Masjid dan mushalla adalah tempat yang semestinya untuk itu.
Apa-apa yang mereka lakukan sama
sekali jauh dari kaidah dan etika majlis ta’lim yang semestinya
mencerdaskan serta mencerahkan, justru kontraproduktif, yaitu menstigma
Islam sebagai biang kekacauan. Bahkan ketika mereka menggelar muludan dengan nuansa yang seperti itu, apalagi diramaikan dengan letusan puluhan petasan (mercon), maka apa-apa yang mereka lakukan sama sekali tidak akan menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi justru kebalikannya.
Begitulah cara musuh-musuh Islam memfitnah Islam dan Nabi Muhammad
Rasulullah: mereka menggunakan atribut Islam, menyebut-nyebut cinta
Rasul, namun output yang mereka hasilkan adalah kebencian.
Kelompok-kelompok seperti ini jelas berbahaya, sama bahayana dengan terorisme yang meledakkan sejumlah bangunan dan menewaskan sejumlah orang seperti Bom Bali dan sebagainya.
Bahkan kelompok-kelompok seperti ini memang berbahaya. Karena
kelompok-kelompok seperti ini –secara sadar atau tidak— secara tidak
langsung membenamkan citra negatif ke dalam benak sejumlah orang
terhadap Islam dan Nabi Muhammad SAW. Mereka –sadar atau tidak—
menjalani perbuatan yang hakekatnya sama dengan menggerogoti dan
melakukan pembusukan dari dalam. (haji/tede/nahimunkar.com)
Sumber:
Eksploitasi Birahi Berjubah Wali
Habib muda yang sedang naik daun
diadukan mencabuli puluhan jamaah pria remaja, dengan dalih doktrin
ketaatan pada wali. Korban terindikasi kecanduan dan dikhawatirkan
mengalami penyimpangan orientasi seksual.
***
Sepucuk surat panggilan dilayangkan
pihak Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Surat yang diteken
Ketua KPAI, Maria Ulfah Anshor, tertanggal 13 Februari 2012, itu
ditujukan kepada Habib Hasan bin Ja’far Assegaf, beralamat di Jalan K.M.
Kahfi, Gang Manggis, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Dijadwalkan, pihak terpanggil
diperiksa Wakil Ketua KPAI, Asrorun Ni’am Sholeh, pada Jumat besok pukul
14.00 WIB. Pemanggilan Hasan oleh KPAI itu terkait statusnya sebagai
terlapor atas pengaduan yang cukup serius untuk seorang tokoh agama:
“kekerasan psikis dan kekerasan seksual”. Sebelumnya, pada 16 Desember,
Hasan dilaporkan ke polisi atas tuduhan telah melakukan pencabulan.
Namun, hingga pertengahan Februari, polisi belum juga memanggil dan
memeriksa terlapor. Aparat penegak hukum itu kalah sigap ketimbang KPAI,
yang langsung melayangkan pemanggilan setelah menerima pengaduan pada
Selasa, 7 Februari.
Meski berusia muda, 38 tahun, dan
namanya belum lama mencuat, Hasan Assegaf bukan sosok sembarangan. Ia
ikon kunci Nurul Musthofa (NM), majelis taklim yang 10 tahun terakhir
naik daun, menjadi magnet baru bagi puluhan ribu anak muda Jakarta dan
sekitarnya.
NM masuk dua terbesar majelis taklim di Jakarta, selain Majelis
Rasulullah pimpinan Habib Mundzir Al-Musawa. “Ciri khas Nurul Musthofa
suka menggelar pengajian sambil menutup jalan raya,” kata Usman Arai,
salah satu perintis NM yang telah keluar tiga tahun silam. Itulah
sebabnya, NM kerap menuai sorotan. Pengaduan pelecehan seksual ini
menambah panas sorotan terhadap majelis pencinta habaib itu.
Korban yang mengadu adalah murid-murid lingkaran dekat sang habib.
Sebagian malah kerabat sejumlah orang yang berperan penting dalam
merintis pengembangan majelis itu. Empat di antaranya tercatat putra
keluarga habaib. “Saya merasa sakit dan diinjak-injak. Rasanya muka saya
seperti ditempeleng dengan kotoran sapi,” kata Hasyim Assegaf, 48
tahun, seorang perintis NM, yang sepupu dan keponakannya jadi korban
pencabulan.
Terbongkarnya skandal Hasan itu terpicu
somasi yang dilayangkan Hasan kepada delapan orang, November 2011.
Seorang pengusaha pencinta habib, sebut saja Edo, yang ditemui Gatra di
rumah Hasyim Assegaf di Jagakarsa, menjelaskan bahwa masalah ini bermula
ketika korban cabulan Hasan mengadu kepada kakak perempuannya. Si kakak
mengadukan kepada guru mengajinya, Maryam, di Jagakarsa.
Maryam adalah menantu Haji Atung, sosok yang pada tahun 2000-an sempat
menampung Hasan bin Ja’far di rumahnya. Setelah mendapat laporan, Maryam
melarang muridnya datang ke NM. Berita ini menyebar ke beberapa pihak.
Informasi itulah yang membuat Hasan gerah dan melayangkan somasi.
Dua orang yang turut disomasi adalah Maryam dan Usman Arai, orang yang
pertama kali mendatangkan Hasan dari Bogor ke Jakarta. Mereka yang
mendapat somasi kemudian sepakat membongkar kasus pelecehan seksual
Hasan.
Pihak yang disomasi dan korban pelecehan Hasan sempat menghadap Habib
Rizieq Shihab, Ketua Front Pembela Islam (FPI). Rizieq diminta menjadi
penengah antara Hasan dan korban. Sebulan setelah menghadap Rizieq dan
tidak ada kemajuan berarti, kasus ini dilaporkan ke Polda Metro Jaya,
karena ancaman pada korban dan keluarganya terus meningkat.
Asrori S. Karni, Haris Firdaus, Mukhlison S. Widodo, dan Gandhi Achmad
[Laporan Utama, Gatra Nomor 18/15 Beredar Kamis, 16 Februari 2012]
[Laporan Utama, Gatra Nomor 18/15 Beredar Kamis, 16 Februari 2012]
“Kami Disuruh Mijitin”
Gatra berhasil memperoleh
testimoni sejumlah korban. Salah satunya, sebut saja Mamat, yang mengaku
dicabuli Hasan sejak 2002 sampai 2006, ketika berusia 18-22 tahun.
Modusnya belum separah korban pasca-2006. Saat punya hasrat, Hasan memanggil korban ke kamarnya via SMS, telepon, BlackBerry Messenger (BBM), atau pesan Facebook.
Gatra memperoleh copy
perbincangan pesan Facebook Hasan dengan akun “Mengemis Doa Kalian”
dengan salah satu muridnya. Ada beberapa istilah dan kode khusus yang
dipakai. Misalnya, Hasan mengajak “spg”, “dicolein”, membawa “vcd beef”,
minta “ditelen”, “yg hot ok”, atau “musti lebih hebat mainnya”. Pesan
lain mengisyaratkan permintaan murid beraksi berdua di depan Hasan.
“Kami disuruh mijitin,” kata Mamat saat ditemui Gatra, Kamis
pekan lalu, usai mengadu ke KPAI. Setelah memijit kaki, Mamat ditawari
untuk dibersihkan hati dan nafsunya. “Saya disuruh nyium bibirnya, nelen
ludahnya, dan nyium dadanya,” tutur Mamat.
Hasan minta diperlakukan bagaikan pacar Mamat. “Lampiasin semua nafsu
ente ke ane kalau ente mau dijaga nafsunya sama ane,” kata Hasan,
ditirukan Mamat. Hasan mengklaim, tindakan itu dilakukan dalam kapasitas
sebagai wali. “Ini hal wali. Ane melakukan ini buat ngeredam nafsu ente
supaya nggak liar,” tutur Hasan.
Awalnya Mamat percaya. Pada 2006, Mamat melawan. Lantaran diminta
mencopot sarung Hasan. Tahun 2007, Mamat keluar dari NM. Ia tak
bercerita kepada keluarga. “Saya malu,” katanya. Ketika kasus ini
meledak pada 2011, Mamat tak bisa lagi menyimpannya. Apalagi, adik
kandungnya, sebut saja Andi, 19 tahun, juga jadi santapan Hasan.
Andi dicabuli sejak 2006, ketika berusia 13 tahun. Mamat marah besar.
“Saya tidak bisa toleransi lagi. Ini bukan wali. Saya harus
menghentikan,” ungkapnya, geram. Kepada Andi, Hasan meyakinkan hendak
menghilangkan kejahatan dalam tubuhnya. “Daripada nanti kebejatan ente
dibuka Allah di Padang Mahsyar, lebih baik dibuka ke ane. Biar ane yang
nanggung,” kata Hasan.
“Adik saya disuruh cium bibir, nelen ludah, gigit lidah, kemaluannya
dipegang-pegangin,” ungkap Mamat. Kepada korban lainnya, perilaku Hasan
lebih buas. Hasan sampai melakukan sodomi dan oral sex. “Kalau oral,
sampai ada gaya 69 segala,”papar Mamat.
Kepada korban, Hasan royal. Mereka diberi uang saku Rp 50.000 sampai
Rp 700.000. Ada yang dikasih ponsel. Doktrin kewalian pembungkus aksi
cabul itu, kata Mamat, disampaikan secara pribadi, tidak dalam pengajian
terbuka.
Perilaku Hasan makin merajalela sejak 2006. “Karena dia mulai punya
rumah sendiri,” katanya. Sebelum itu, Hasan menumpang tinggal
berpindah-pindah pada sejumlah jamaah kaya pencinta habib. Pada 2002,
menurut Mamat, aksi cabul Hasan pernah terbongkar. Ada korban yang
mengadu kepada keluarganya, tapi diselesaikan secara kekeluargaan.
“Hasan ngaku dan taubat,” kata Mamat.
Kepada Mamat, Hasan pernah bilang, aksinya berhenti sendiri setelah
menikah. Mamat dan keluarga korban percaya dan sepakat meredamnya.
Ternyata, setelah Hasan menikah pada 2004, aksinya berlanjut. Korban
terbanyak adalah remaja yang sehari-hari tinggal di rumah Hasan di Gang
Kahfi, Jagakarsa, untuk membantu operasional NM.
Salah satu korban yang dipaksa melakukan oral sex dan mengonani Hasan
adalah Jeki, sebut saja begitu, sepupu Hasyim Assegaf, sosok berada yang
pernah memfasilitas berdirinya NM. Gatra menemuinya usai
melapor ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Selasa lalu.
Aksi cabul Hasan, kata Jeki, untuk mengeluarkan setan dari tubuh korban.
Apakah korban menikmati? “Enggak, kami semua berat. Kami kayak dicuci
otak, kalau nggak nurutin, nanti kualat,” kata Jeki kepada
Taufiqurrohman dari Gatra. Ada keinginan keluar dari jerat
Hasan. “Tapi kami tuh kaya terikat. Kami pengen keluar, tapi ada saja
ancaman dalam batin. Ntar kami dimusuhin, dibilang durhaka, pokoknya
diintimidasi,” katanya. “Kami selama ini tertipu mata melihat dia punya
murid ribuan, ditambah doktrin-doktrin itu.”
Selasa sore, saat di LPSK, Jeki tiba-tiba menerima BBM dari temannya
yang masih bergabung di lingkaran Hasan. Sebut saja Isal. Ia menunjukkan
gelagat ingin keluar. “Ana tidak bisa lagi bersandiwara atas hal ini.
Ini fakta dan bukan hasud,” tulis Isal dalam BBM-nya kepada Jeki. Ia
berharap, makin banyak temannya di lingkaran Hasan yang mau keluar.
Asrori S. Karni, Haris Firdaus, Mukhlison S. Widodo, dan Gandhi Achmad
[Laporan Utama, Gatra Nomor 15/18 Beredar Kamis, 16 Februari 2012]
[Laporan Utama, Gatra Nomor 15/18 Beredar Kamis, 16 Februari 2012]
Status “Wali” Menjerat Anak Muda
Majelis taklim Hasan di Jakarta
pertama kali bertempat di rumah Haji Atung, Kampung Kandang, Jagakarsa.
Promosi kewalian Hasan membuat banyak anak muda tertarik. Beberapa orang
kaya terpikat menjadi donatur. Dana itu, antara lain, untuk promosi
lewat spanduk, baliho, umbul-umbul, dan website.
Haji Atung termasuk salah satu
penyumbang. Donatur utama lainnya, sebut saja Haji Nuril, dari Cilandak.
Rumah Hasan yang kini disebut Istana Segaf di Ciganjur berdiri di atas
tanah hibah ayah Nuril. Sebelum Istana Segaf jadi, Hasan sering tinggal
di rumah Nuril, plus difasilitasi memakai mobil Nuril.
Sialnya, kata Edo, anak Haji Atung dan Haji Nuril juga jadi korban
cabulan Hasan. Pada Mei 2009, Hasan dan istrinya menunaikan umrah,
dibiayai seorang pengusaha. Dalam rombongan itu ada sang pengusaha, Haji
Nuril dan istri, serta anaknya, Harun, bukan nama sebenarnya. Rombongan
ini menginap di Hotel Hilton.
Menjelang tengah malam, Hasan minta istrinya membeli jus. Sang istri
berangkat bersama Haji Nuril dan istrinya. Saat itulah, Hasan memanggil
Harun ke kamar. “Saat pulang, istri Haji Nuril menemukan Harun di kamar
Hasan sedang dipangku Hasan,” tutur Edo.
Sewaktu kejadian di Mekkah itu, Harun berusia 15 tahun. Sejak usia 12
tahun, Harun sudah dicabuli Hasan. “Pada waktu umur 12, kemaluan Harun
belum bisa bangun. Hasan kasih dia minum paksa obat perangsang,” kata
Edo. Proses pelecehan seksual itu terus berlangsung sampai tahun lalu.
“Dari sekian korban, Harun paling hancur mentalnya,” Edo menambahkan.
Wakil Ketua KPAI, Asrorun Ni’am, mensinyalir, tindakan pelecehan seksual
itu membuat korbannya kecanduan. Akibatnya, orientasi seksual korban
dikhawatirkan menyimpang. “Takutnya sekarang mereka addict,” katanya.
Tanpa Hasan, beberapa korban dikabarkan melakukan aksi yang diajarkan
Hasan dengan sesama temannya.
Ada pesan BBM antarkorban yang berisi ajakan untuk saling beraksi di
kamar mandi. Ni’am berpandangan, para korban harus menjalani
rehabilitasi supaya potensi penyimpangan orientasi seksual itu hilang.
Dalam perbincangan keluarga korban dan KPAI berkembang kesan, polisi
lamban menangani kasus ini. “Harusnya dua minggu cukup untuk mendalami
keterangan saksi. Setelah itu, pelaku bisa dipanggil,” ujar sumber di
KPAI. Ada dugaan, polisi takut memeriksa Hasan karena banyaknya massa
NM. Tapi juru bicara Polda Metro Jaya, Kombes Rikwanto, membantah takut.
“Tidak ada rasa takut bagi kami. Anggota kami saja yang bersalah pasti
ditangkap. Apalagi ini masyarakat biasa,” katanya. Terlapor belum
diperiksa, kata Rikwanto, karena penyidik masih ingin
mengonfirmasikannya kepada saksi ahli bahasa. “Yang dilaporkan statusnya
masih terlapor, belum tersangka,” kata Rikwanto kepada Deni Muliya
Barus dari Gatra.
Tanggapan pro dan kontra berkembang di Kampung Kandang, Jagakarsa,
kawasan yang menjadi basis awal pertumbuhan majelis itu. Perbincangan
yang diikuti Gatra di Masjid Al-Akhyar, Kampung Kandang, Senin
lalu, memperlihatkan resistensi mereka pada NM. Masjid yang dikelola
Haji Atung ini dulu tempat pertama Hasan berdakwah. “Nggak di sini saja, Mas, yang menolak. Warga Jagakarsa, Cilandak, sampai Condet pun pada menolak,” kata seorang pengurus masjid.
Di sisi lain, ada dukungan tokoh masyatakat setempat, Murtanih.
Penolakan warga, kata Murtanih, hanya suara sebagian. “Adanya Numus
(Nurul Musthofa) ini sangat besar manfaatnya dibandingkan dengan
mudaratnya,” kata Murtanih. Anak muda Kampung Kandang jadi mudah diajak
mengaji. “Daripada remaja kelayapan nggak jelas, mending mereka ngaji,”
tuturnya.
Kepala SD Negeri Lenteng Agung 12 itu juga mendengar selentingan soal
skandal seksual Hasan. Tapi ia menyerahkannya pada proses hukum, takut
jadi fitnah. Ia menjadi jamaah Hasan sejak 1998. “Saya tahu
kepribadiannya. Dia orang baik dan santun. Kalau dia sampai melakukan
seperti itu, tidak mungkinlah. Buktinya, jamaahnya terus berkembang,”
katanya.
Empat anak Murtanih juga jamaah NM. Murtanih memang sering mengajak
keluarga, anak dan istri, ikut pengajian NM. Ia merasa, anak-anaknya
tambah pintar mengaji, juga membaca ratib. “Jadi, tidak benar warga
menolak Numus hadir di Kampung Kandang,” ia menegaskan.
Gatra menempuh berbagai cara untuk mengonfirmasikan tuduhan itu kepada Hasan bin Ja’far. Gatra
meminta waktu wawancara melalui Koordinator NM, Abdulrahman. “Sudah
saya sampaikan, tapi Anda tahu sendiri, jadwal habib padat sekali,” kata
Abdulrahman. Sandy Arifin, yang di beberapa media mengaku sebagai
pengacara Hasan, tidak merespons telepon dan SMS Gatra. Surat elektronik melalui Facebook dan e-mail Hasan Assegaf juga tak ditanggapi.
Saat pengajian di makam Habib Kuncung, Kalibata, Sabtu malam lalu, Gatra menyerahkan kartu nama, sekaligus minta wawancara. “Oh ya, dari Gatra,” begitu tanggapan Hasan. Senin malam lalu, saat Hasan melakukan pengajian di Kalibata Utara V, Gatra kembali hendak berkonfirmasi.
Usai pengajian, Hasan menuju kendaraannya yang terparkir di sebuah gang sempit. Gatra menjabat
tangan Hasan dan menyampaikan konfirmasi. Hasan hanya menjawab, “Oh ya,
ya,” sembari melenggang masuk Toyota Camry hitam nomor B-1-NM.
Asrori S. Karni, Haris Firdaus, Mukhlison S. Widodo, dan Gandhi Achmad
[Laporan Utama, Gatra Nomor 15/18 Beredar Kamis, 16 Februari 2012]
[Laporan Utama, Gatra Nomor 15/18 Beredar Kamis, 16 Februari 2012]
Habib Hasan Tak Datang ke KPAI
Jakarta – Habib Hasan bin Ja’far Assegaf tidak datang langsung memenuhi panggilan KPAI, melainkan mengirimkan utusan khususnya.
“Dengan alasan pihak teradu tidak
bisa hadir karena sedang ada urusan di Bogor, beliau mengirimkan utusan
khususnya, Gondho Yudistiro,” kata Wakil Ketua KPAI Asrorum Ni’am
Sholeh.
Gondho membawa surat kuasa yang ditandatangani Habib Hasan. Gondho juga merupakan liaison officer (LO) yang menangani kasus ini di Polda Metro Jaya.
Hasil dari pertemuan hari ini, telah
disepakati untuk dijadwalulang. “Kemungkinan akan dijadwalkan ulang
untuk Senin atau Selasa, agar Habib Hasan bisa menemui KPAI,” kata
Ni’am.
Ni’am mengungkapkan, bila pada waktu
yang ditentukan yang bersangkutan tidak datang, kita akan mendorong
Polda Metro Jaya untuk segera melakukan tindakan hukum.
“Bila kasus tersebut benar, KPAI akan
meminta Polda melakukan visum psikiatrikum untuk psikis korban. Selain
itu juga akan diadakan proses rehabilitasi korban,” tegas Ni’am.
KPAI memanggil Habib Hasan terkait
kasus pelecehan seksual yang diduga dilakukannya, terhadap sejumlah
anak-anak yang menjadi pendukungnya.
“KPAI melakukan ini tidak hanya
terkait perlindungan anak terhadap ekspoitasi seksual, tetapi juga dari
doktrinasi agama yang menyimpang,” ungkap Ni’am. [WS]
“Saya Seperti Ditempeleng
Kotoran Sapi”
Salah seorang yang paling geram atas perilaku menyimpang Hasan bin Ja’far Assegaf adalah Hasyim Assegaf.
Pria 48 tahun ini sempat dekat dengan
Hasan dan tiga adiknya, Musthofa, Abdullah, dan Qasim. Saat jamaahnya
masih sedikit, Hasan merintis Majelis Taklim Nurul Musthofa di rumah
Hasyim, di Jalan Jambu, Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Belakangan, keponakan dan sepupu
Hasyim diketahui turut menjadi korban pelecehan seksual Hasan. Hasyim
sakit hati dan kecewa mendalam. Tindakan Hasan dipandang mencoreng citra
habib yang selama ini jadi panutan. Senin malam lalu, wartawan Gatra, Haris Firdaus dan Taufiqurrahman, berbincang dengan Hasyim di rumahnya yang terpajang foto sejumlah habib. Berikut petikannya:
Seberapa dekat Anda dengan Hasan Assegaf?
Dia merintis majelis taklim di rumah
saya sejak tahun 2000. Adik-adiknya sudah seperti anak saya. Mereka
sering tidur di rumah saya. Saat majelis taklimnya membesar, banyak
jamaahnya tidur di rumah saya. Kunci rumah saya gantung dekat pintu 24
jam, karena saya anggap majelis taklimnya menyebar kebaikan.
Bagaimana Anda menilai majelis taklimnya belakangan ini?
Ternyata banyak mudaratnya. Anak muda
laki-laki dan perempuan bercampur. Banyak jamaah perempuan hamil di
luar nikah. Ya, bagaimana, anak perempuan boncengan motor dengan anak
laki-laki pada tengah malam. Mereka pamit ke orangtua pergi ke
pengajian. Di tengah jalan, mereka ke mana kita tidak tahu.
Bagaimana kualitas pengajian di Nurul Musthofa?
Jamaah hanya bisa hafal kasidah dan
maulid. Rata-rata kalau kita tanya hal sepele, seperti tata cara wudu,
mereka tidak bisa jawab. Bertahun-tahun majelis ini berdiri, nyatanya
cuma menghasilkan orang yang bisa menghafal. Didikan dasar agamanya nol
besar. Bahkan saya dengar, kru Nurul Musthofa salatnya nggak bener. Saat
mendirikan panggung, dari pagi sampai malam, mereka nggak salat.
Kapan Anda pertama tahu skandal seksual ini?
Saya baru dengar November 2011. Ini
benar-benar di luar jangkauan akal. Sepupu dan keponakan saya jadi
korban. Saya merasa sakit dan diinjak-injak. Rasanya, muka saya seperti
ditempeleng kotoran sapi. Dia kecil di sini, besar dari sini, kok
keluar hasilnya begini? Saya kecewa dan betul-betul malu. Saya sampai
mempertanyakan apakah Hasan itu benar-benar habib? Kelakuannya tidak
seperti habib.
Benarkah korban ini anak-anak dari orang yang dulu dekat dengan Hasan?
Memang. Hasan ini tidak tahu balas
budi. Ada Haji Atung yang tinggal di Kampung Kandang, Jagakarsa.
Rumahnya terbuka 24 jam untuk para habib. Dia menampung orang plus
makan, minum, rokok, dan tempat tidur. Di rumah Haji Atung, Hasan
pertama kali menggelar majelis ketika baru datang dari Bogor. Hasan dulu
sering tidur di sana, makan di sana, pakai mobil Haji Atung juga. Tapi
anak Haji Atung sendiri jadi korban pelecehan seksual.
Kenapa para korban bisa menuruti Hasan?
Hasan mendoktrin dirinya wali. Apa
pun yang dia lakukan merupakan hal kewalian. Awalnya, yang didoktrin
orang sekitarnya. Meskipun akal mereka tidak menerima, akhirnya terpaksa
terima karena mendapat penghasilan dari sana. Mereka menyebar doktrin
ini dari mulut ke mulut dan mengarang kisah kewalian Hasan. Ada
kemungkinan, Hasan memakai ilmu kesaktian tertentu. Korbannya bukan
satu-dua orang, melainkan puluhan.
[Laporan Utama, Gatra Nomor 15/18 Beredar Kamis, 16 Februari 2012]
Sumber:









Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.